widgets

Jumat, 20 Februari 2015

Milad atau Dies Natalis?

                 Kita kerap melihat HUT (hari ulang tahun) suatu instansi, kelompok ataupun seseorang selalu diwarnai dengan sesuatu yang surprise, meriah sehingga dapat terkenang di memori seseorang.Walaupun ada yang merayakannya dengan sederhana dan alakadarnya. Kita juga pernah mendengar ulang tahun sebuah sekolah dengan sebutan milad atau dies natalis. Lalu, apa perbedaan dari kedua kata tersebut?
                Maulid, maulud, dan milad sebenarnya memiliki pengertian yang sama yakni hari lahir. Kata ini merupakan bahasa  indonesia yang diserap dari bahasa arab. Kata maulud sering disandingkan pada  hal yang berhubungan  dengan rasulullah. Milad (miladiyah) biasanya digunakan dalam peringatan hari ulang tahun suatu instansi.
                Dies natalis berasal dari bahasa latin yang mempunyai arti yang sama. Natal yang memiliki arti kelahiran cenderung melekat pada penggunanya oleh agama kristiani yang mereka rayakan setiap tanggal 25 desember. Selain itu, dies natalis lebih sering digunakan dalam perguruan tinggi,
                Nah, dari beberapa pengertian diatas, kita dapat mengetahui apa perbedaan dari dua kata tersebut, walaupun secara garis besar memiliki istilah arti yang sama. Intinya, lembaga sekolah, instansi dan sebagainya tidak perlu mempermasalahkan penamaan dari hari lahirnya. Biarkan sesuai dengan pilihan dan keyakinan masing-masing. Yang paling penting adalah niat tulus ikhlas dan perenungan diri untuk menjadi yang lebih baik dan berguna di masa yang akan datang.

Selasa, 17 Februari 2015

DIES NATALIS SMAN 1 MOJO


      Dies Natalis adalah suatu acara yang sudah biasa kita dengar di berbagai sekolah menengah keatas di seluruh punjuru Indonesia. Oleh karena itu, secara turun-temurun peringatan itu dirayakan dengan penuh syukur dan kebahagiaan. Peristiwa itu selalu disambut dengan pengharapan akan makin bertambahnya kedewasaan. Peristiwa ini biasanya lebih dikenal dikalangan organisasi atau Perguruan Tinggi. 
     Hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa Dies Natalis yang biasa di singkat dengan kata DN itu pasti mendatangkan grup musik atau band baik lokal maupun band papan atas, seperti NOAH, D'MASIV, dll. Salah satunya adalah sekolah SMA NEGERI 1 MOJO yang insya allah akan mengadakan DN pada tanggal 24 -28 Februari 2015. 
     Pelajar SMAN 1 MOJO sudah melakukan persiapan, mulai dari pembagian panitia oleh osis, dan membuat rancangan daftar nama yang akan mengikuti lomba-lomba yang juga akan diadakan di sekolah tersebut.
        Tak jarang banyak siswa yang akhir-akhir ini harus meninggalkan ruangan kelas/KBM untuk melakukan persiapan acara rutin tahunan tersebut yaitu rapat panitia. Siswa yang lain juga tidak mau kalah, mereka juga akan antusias atas acara ini dengan cara membuat planing atau strategi lomba-lomba yang akan mereka geluti pada saat DN nanti.
        Di penghujung acara DN adalah acara yang di nantikan oleh siswa-siswi SMAN 1 MOJO yaitu pentas musik yang dibintang tamui oleh berbagai band lokal dari kota Kediri sendiri. Salah satunya THE RATS Band yang mana vokalis dari band tersebut adalah siswa kelas XI IPA 1 dari SMAN 1 MOJO sendiri. 
Yang terpenting pada saat pentas tersebut adalah NO ANARKI BE HAPPY.

Santri IT (Ilmu Teknologi)

  Di zaman yang serba modern ini tidak dapat kita pungkiri kenyataan-kenyataan yang ada. Teknologi misalnya, akan membawa dampak positif dan negatif dalam kehidupan. Baik itu kehidupan individu, maupun kelompok.  Dampak positif dari Teknologi adalah memudahkan yang dianggap sulit, seperti handphone, laptop dan lain sebagainya. Dan dampak negatifnya adalah banyak membawa madarat bagi yang menyalahgunakannya. Dengan kata lain, teklonogi tersebut tidak dapat memberikan manfaat bagi pemakainya.
Namun santri, yang dijuluki  sebagai kaum sarungan tur kopiahan dan dianggap memiliki harapan besar dalam memimpin negeri ini secara arif dan bijaksana serta diharapkan mampu menjadi seorang pemimpin di masa depan (the future leaders), memiliki pandangan berbeda mengenai apa itu teknologi dan bagaimana memanfaatkan teknologi, karena mindset yang dibangun oleh para kyai-kyai dahulu bahwa teknologi itu tidak ada manfaatnya tapi banyak mudaratnya. Landasan itulah yang mendorong Majelis Al Muwasholah baina al Ulama il Muslimin bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi serta beberapa instansi negeri maupun swasta lain untuk meluruskan pemahaman tersebut. Saatnya santri merubah pola pikirnya dengan memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran serta dakwah, seperti halnya komputer sebagai teknologi pemikat manusia. Dengan komputer kita dapat membuat apapun dan mencari apapun di dunia ini dalam hitungan menit bahkan detik.
Dalam rangka menumbuhkan kemampuan santri dalam bidang teknologi itulah, Kamis 27 Februari 2014 Majelis Al Muwasholah baina Al Ulama il Muslimin menggelar Workshop Teknologi Informasi dan komunikasi di Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah Tegal, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan pembacaan Al Qur’an oleh santri setempat dan kegiatan workshop tersebut dibuka tepat pukul 11.00 WIB oleh pengasuh Pondok Pesantren Ribath Nurul Hidayah yaitu Abuya Al Habib Sholeh bin Ali Al Athas. Dari tingkat pemula para santri di beri pelatihan dengan sistem kelas pada setiap harinya.
Workshop Teknologi Informasi dan Komunikasi yang diadakan di tiga titik ini, dimana Tegal menjadi salah satu Kota di Jawa Tengah yang dikunjungi setelah Demak dan Rembang, diikuti oleh perwakilan beberapa  Pesantren dan Majelis Ta’lim di lingkungan regional Tegal. Kedepannya diharapkan seluruh Pesantren di Tegal dapat dijangkau dengan kegiatan serupa. Di sela-sela coffea break pada workshop  ini juga secara simbolik dikukuhkan sebuah Tim Relawan TIK Indonesia Kementerian Informasi dan Komunikasi  Regional Tegal yang akan membantu program pemerintah yaitu pada tahun 2015, 50 % Masyarakat Indonesia sudah melek IT.